Langsung ke konten utama

Siswi MTsN 1 Kota Malang Temukan Beras Analog yang Kaya Nutrisi



Kota Malang (MTsN 1) – Kegiatan meneliti sudah menjadi salah satu budaya di MTsN 1 Kota Malang. Budaya meneliti ini terwadahi dalam sebuah kegiatan yang bernama KIR (Karya Ilmiah Remaja) Matsanewa.
Sudah banyak inovasi muncul dari anak-anak KIR Matsanewa, bahkan beberapa diantaranya berhasil meraih juara di ajang bergengsi mulai dari tingkat lokal (kota/kabupaten), regional, sampai ke tingkat nasional.
Salah satu inovasi yang berhasil dibuat oleh siswa Matsanewa adalah beras analog berbahan dasar bayam, tiwul, dan ubi ganyong. Beras analog ini dibuat dengan metode Logan Rice (low glycemic and high nutrition analog rice), akrabnya disebut beras analog bernutrisi.
Inovasi ini dibuat oleh Dania Wijayanti dan Rizqina Faizana, bahkan dari penelitian tersebut akhirnya membuat dua siswi Matsanewa itu dianugerahi juara 1 Lomba Inovasi Teknologi Kota Malang bidang agribisnis.
Memang sudah banyak peneliti muda menciptakan inovasi berupa beras analog. Namun bedanya, Dania dan Rizqina lebih memanfaatkan tepung ganyong, ekstrak bayam, dan tiwul (jajanan tradisional). Mereka berupaya menciptakan pengganti beras padi dengan khasiat yang lebih bagus.
"Protein lebih tinggi, kadar seratnya tinggi dan memiliki indeks glisemik yang rendah sehingga bagus untuk diabetes," jelas Dania Wijayanti.
Ide inovasi beras analog sebenarnya tidak lepas dari tingkat konsumsi beras padi yang cukup tinggi. Menurut Dania, kondisi tersebut berpotensi membahayakan ketahanan pangan nasional. Padahal Indonesia memiliki banyak Sumber Daya Alam (SDA) yang belum termanfaatkan.

Kota Malang sendiri berada di ketinggian 460 hingga 667 mdpl. Wilayah ini juga berpotensi menjadi tempat budidaya ganyong, bayam dan sebagainya. Apalagi, Dania dan Rizqina banyak menemukan ganyong tumbuh liar di perkebunan warga.
Tidak hanya ganyong, bayam juga banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Beberapa perkebunan sayuran ini dapat ditemukan di Kota Malang. Beberapa di antaranya di Kecamatan Kedungkandang dan Blimbing.
Berdasarkan SDA yang tersedia, Dania dan Rizqina pun mencoba menciptakan inovasi bahan pangan yang mirip dengan beras. Hingga akhirnya, mereka memutuskan memilih tepung ganyong, tiwul, ekstrak bayam dan protein sebagai pengganti beras. Menurut Dania, bahan-bahan ini terbukti memiliki khasiat lebih bagus dibandingkan beras biasa.
Beras analog hasil kreasi Dania dan Rizqina memiliki perbedaan kuat pada warna dan bentuk. Warna yang ditampilkan lebih gelap dengan bentuk yang agak sedikit panjang. Pada rasa, beras analog tidak terlalu manis tapi tekstur hampir serupa pada umumnya.
Dalam proses pembuatan beras yang diteliti sejak setahun lalu tersebut, Dania mengungkapkan, ini sebenarnya tidak sulit. Mereka hanya perlu mencari bahan-bahan di pasaran lalu memprosesnya.
"Kita di sini pakai tepung ganyong karena lebih banyak di pasaran. Lebih efektif dan efisien. Kita sengaja pakai ini biar masyarakat bisa buat juga karena kalau pakai tepung lebih mudah," tambah siswi kelas 8E ini.
Pada prosesnya, Dania dan Rizqina hanya perlu mencampur seluruh bahan dalam satu tempat. Lalu menguleninya (mengaduk) dan mencetak bahan menjadi buliran beras. Setelah itu memasukkannya ke dalam oven selama 1 jam 50 menit dengan suhu 100 derajat celsius.
Selanjutnya, Dania mengatakan, beras dapat dimasak dengan cara pada umumnya. Guna keperluan makan biasa, Dania hanya perlu memasukkan beras ke dalam rice cooker  selama delapan hingga sepuluh menit. Proses ini lebih cepat dibandingkan menanak nasi biasa yang mampu memakan waktu hingga 15 menit.
"Cara konsumsinya bisa dikonsumsi langsung tanpa lauk atau bisa pakai lauk, atau pun dijadikan nasi goreng atau bisa juga pakai susu rasanya kayak gitu juga bisa," tambah dia.
Dania dan Rizqina sesungguhnya memiliki harapan agar beras analognya dapat dikomersilkan ke masyarakat luas. Lalu membantu mengubah pola pikir "makan harus pakai nasi" ke depannya. Namun hingga saat ini, keduanya harus melalui proses patenisasi terlebih dahulu. (Red)

Postingan populer dari blog ini

MTsN 1 Kota Malang Borong Juara 1 Pidato Bahasa Indonesia Porseni MTs Kota Malang

Kota Malang (MTsN 1) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Kota Malang kembali mengukir prestasi setelah berhasil meraih juara 1 Lomba Pidato Bahasa Indonesia kategori putra dan putri, Porseni MTs seluruh Kota Malang. Untuk kategori putri diraih oleh Salsabila Ranaita Ahmad (8A), sedangkan Farihul Alimin (7M) menjadi juara di kategori putra. Mereka mengungguli peserta lain dari 34 madrasah se-Kota Malang. Prestasi ini menjadi tradisi setelah tahun 2017 juga meraih juara pada ajang yang sama. Misbahul Amri selaku juri lomba pidato bahasa Indonesia mengaku kaget karena dua-duanya berasal dari sekolah yang sama. “Saya tidak tahu kalau mereka dari MTs 1 Kota Malang, karena memang tidak ada atribut dan   identitas di naskah maupun kostum mereka. Ini artinya mereka memang menguasai materi dan performansi yang apik,” tutur doktor Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang tersebut.      Koordinator Porseni MTs cabang pidato bahasa Indonesia, Yoga Prasetya...

Siswa MTsN 1 Kota Malang Raih Juara 1 Muslim Star Event 2019

Kota Malang (MTsN 1) – Siswa MTsN 1 Kota Malang, Muhammad Aziden Herlambang, berhasil meraih prestasi membanggakan pada bulan Ramadan tahun ini. Siswa kelas 8H tersebut sukses mendapatkan juara 1 dalam ajang Muse (Muslim Star Event) All Star 2019 yang diadakan oleh RRI Malang. Muse All Star adalah kompetisi hafalan Alquran bagi mereka yang telah berhasil meraih juara di ajang yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Dalam grand final ajang yang tahun ini mengangkat tema let the star rise , Aziden tampil dengan penuh percaya diri dalam hafalan juz 29 dan berhasil meraih nilai tertinggi yang akhirnya mengantarkannya meraih predikat terbaik atau juara 1. Tak ayal, keberhasilan ini disambut dengan suka cita oleh siswa matsanewa tersebut beserta keluarganya. Aziden mengaku sangat senang dengan prestasi yang didapatnya kali ini, sekaligus meneruskan prestasi tahun lalu yang berhasil menjadi juara 1 Muse season 4. Sang ibu pun sangat bangga dengan raihan prestasi Aziden dan menyam...

MTsN 1 Kota Malang Raih Juara 1 Lomba Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional

Kota Malang (MTsN 1) – MAN Insan Cendekia Tangerang sukses melaksanakan kegiatan Sonic Linguistic 2019. Dari lomba lomba tersebut, MTsN 1 Kota Malang menjadi juara 1 di bidang lomba musikalisasi puisi. Tim Musikalisasi Puisi Matsanewa terdiri atas Kayana Ayunda Diyanti (vokal), Khansa Peridhia Naura (gitar), Aisyah Najwa Kasyfa (gitar), Nadira Berliana Cyril (biola), Tian Dyandra Annahel (biola), Djoni (pembina musik), Yoga Prasetya (pembina puisi), dan Mahardika (pendamping lomba).        Khansa Peridhia Naura, sang gitaris yang merangkap penabuh cajon, saat ditemui pada Rabu (27/2), menyatakan perasaan bahagianya. “Alhamdulillah, terima kasih kepada Pak Djoni, Pak Yoga, dan Pak Dika yang telah membina dan mendampingi kami. Saya pribadi masih banyak PR (evaluasi-red) yang harus diperbaiki. Misalnya, masih kaku saat memainkan cajon. Terus ekspresi wajah saya kata teman-teman masih kurang rileks,” ujar siswi kelas 8 bilingual tersebut sambil tertawa. ...