Kota Malang (MTsN 1) – Peringatan
Hari Santri Nasional yang jatuh pada hari ini Selasa (22/10), sangat terasa di
lingkungan MTsN 1 Kota Malang. Hal ini karena sejak Senin (21/10) s.d. Rabu
(23/10) para siswa, guru, dan karyawan kompak menggunakan busana muslim dan
sarung bagi laki-laki.
Tak pelak pemandangan di MTsN 1
Kota Malang pun terasa seperti di sebuah pesantren. Selain itu, madrasah yang
dikenal dengan nama Matsanewa ini juga mengadakan apel dalam rangka peringatan
Hari Santri Nasional yang dilaksanakan pada Selasa (22/10), mulai pukul
07.00-08.00 WIB.
Dalam apel tersebut Mas’udi
selaku Waka Humas menyampaikan sambutan Menteri Agama dalam rangka peringatan
Hari Santri Nasional.
Secara garis besar Mas’udi menyampaikan
bahwa peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema "Santri Indonesia untuk
Perdamaian Dunia". Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya
pesantren adalah laboratorium perdamaian.
Sebagai laboratorium perdamaian,
pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap
moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan
multikultural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak
serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat
menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia.
Setidaknya ada sembilan alasan
dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian.
Pertama; Kesadaran
harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan,
perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad
1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari peran
kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi
pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada
kaidah hubbul wathan minal iman
(cinta tanah air sebagian dari iman).
Kedua; Metode mengaji
dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung
dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari
berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah
hukum, para santri menggunakan metode bahsulmasail
untuk mencari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara
ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk
belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber hukum yang autentik.
Ketiga; Para santri
biasa diajarkan untuk khidmah
(pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai
dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.
Keempat; Pendidikan
kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh
dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan
gotong-royong sesama para pejuang ilmu.
Kelima; Gerakan
komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren. Seni dan
sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan
perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.
Adapun alasan yang Keenam adalah lahirnya beragam kelompok
diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang
serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal
perbedaan baru.
Ketujuh; Merawat
khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan
masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga
lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.
Kedelapan; Prinsip maslahat
(kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh
kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan
masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan
pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual.
Kesembilan; Penanaman
spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam (fikih) yang didalami, banyak pesantren
juga melatih para santrinya untuk tazkiyatunnafs,
yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan
puasa, sehingga akan melahirkan pikiran dan tindakan yang bersih dan benar.
Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan,
apalagi terorisme. (Red)